Hadapi Lonjakan Sampah Nataru, Penguatan Hulu dan PSEL Dinilai Krusial
Lonjakan sampah nasional kembali menjadi perhatian menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pemerintah memproyeksikan pergerakan masyarakat selama Nataru 2025–2026 mencapai sekitar 119,5 juta orang, dengan potensi tambahan timbulan sampah sekitar 59.000 ton dalam waktu kurang dari dua pekan. Peningkatan konsumsi dan mobilitas ini membuat kawasan perkotaan, pusat transportasi, dan lokasi wisata berada pada titik rawan.
Tekanan tersebut muncul di tengah keterbatasan kapasitas pengelolaan sampah di banyak daerah, khususnya tempat pemrosesan akhir (TPA) yang semakin terbebani.
Menanggapi kondisi itu, Direktur Eksekutif Indonesian Solid Waste Association (InSWA), Indria Djamil, mendukung langkah pemerintah dalam mengendalikan sampah selama periode Nataru. Namun ia menegaskan, penguatan pengelolaan dari hulu harus tetap menjadi fondasi utama.
“Kalau pendekatannya masih angkut dan buang, masalahnya akan terus berulang. Hulu harus diperkuat,” ujarnya.
Menurut Indria, meskipun pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber mutlak dilakukan, sistem pengelolaan juga harus realistis dalam menghadapi residu yang tetap tersisa, terutama di wilayah perkotaan dengan volume sampah tinggi.
Dalam konteks itu, ia mendorong percepatan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai bagian dari solusi terintegrasi untuk mengurangi tekanan terhadap TPA. “Penguatan hulu dan PSEL harus berjalan beriringan untuk menekan beban sampah perkotaan,” pungkasnya.
